velisha yuliya ariyanti (situs liyangan)
Situs Liyangan Temanggung: Lokasi dan Daya Tarik Sejarahnya.
Penemuan Situs Liyangan terjadi pada tahun 1976 oleh para arkeolog dari Universitas Gadjah Mada. Temuan-temuan arkeologis di situs ini memberikan wawasan yang berharga tentang kehidupan dan peradaban masyarakat Mataram Kuno. Peninggalan-peninggalan seperti artefak, struktur bangunan, dan temuan-temuan lainnya memberikan gambaran tentang pola pemukiman, sistem sosial, kegiatan ekonomi, dan aspek-aspek lain dari kehidupan masyarakat pada masa itu.
Kehadiran Situs Liyangan menjadi bukti konkret dari kejayaan Kerajaan Mataram Kuno yang pernah berdiri di wilayah Jawa Tengah. Penelitian lebih lanjut di situs ini terus dilakukan untuk memperdalam pemahaman kita tentang sejarah dan budaya Mataram Kuno serta peradaban Jawa kuno secara lebih luas.
Lokasi dan Harga Tiket Masuk
Situs ini dapat diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi, tersedia tempat parkir yang cukup luas di sekitar situs. Sementara itu, untuk pengunjung yang menggunakan angkutan umum, dapat menggunakan berbagai moda transportasi seperti bus atau taksi yang tersedia di wilayah sekitar.
Disarankan untuk mengunjungi tempat ini pada pagi atau sore hari, terutama bagi mereka yang ingin menghindari cuaca yang terlalu panas. Pada waktu-waktu tersebut, suhu udara lebih nyaman sehingga pengalaman berkunjung menjadi lebih menyenangkan.
Dengan informasi ini, para wisatawan dapat merencanakan kunjungan mereka ke Situs Liyangan dengan lebih baik, memastikan mereka dapat menikmati pengalaman berwisata yang optimal dan memperoleh wawasan yang berharga tentang sejarah dan budaya kuno Jawa Tengah.
Kompleks Situs Liyangan
• Kompleks Candi Liyangan
Merupakan bagian penting dari situs ini, terdiri dari tiga candi Hindu yang dibangun dari batu andesit. Candi Liyangan I adalah yang terbesar di antara ketiganya dan menampilkan arca Nandi di bagian depannya, sementara Candi Liyangan II dan III lebih kecil dan tidak memiliki arca. Candi-candi ini merupakan bukti penting tentang pengaruh agama Hindu di wilayah tersebut pada masa itu.
• Kompleks Permukiman
Merupakan area yang terdiri dari ratusan rumah yang dibangun dari kayu dan bambu. Rumah-rumah ini tersusun rapi dalam bentuk persegi panjang, memberikan gambaran tentang pola pemukiman dan struktur sosial masyarakat pada zaman Mataram Kuno. Selain rumah, kompleks ini juga dilengkapi dengan beberapa sumur dan tempat penampungan air, menunjukkan keberlanjutan kehidupan sehari-hari.
• Kompleks Industri
Merupakan area yang terdiri dari beberapa bengkel dan tempat peleburan logam. Di sini, ditemukan berbagai macam artefak seperti alat-alat batu, perhiasan, dan tembikar, menunjukkan adanya aktivitas manufaktur dan perdagangan yang berkembang di masyarakat Mataram Kuno.
• Kompleks Pemakaman
Merupakan area yang terdiri dari ratusan kuburan yang dibuat dari batu bata. Artefak yang ditemukan di sini, seperti bekal kubur dan perhiasan, memberikan wawasan tentang kepercayaan dan praktik keagamaan serta kebiasaan pemakaman masyarakat pada masa itu.
Secara keseluruhan, kompleks Situs Liyangan adalah saksi bisu dari kejayaan dan kompleksitas peradaban Mataram Kuno, dan penelitian lebih lanjut di setiap kompleksnya terus memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah dan budaya kuno Jawa Tengah.
Fasilitas Umum
• Pusat Informasi: Pengunjung dapat memperoleh informasi yang lengkap tentang Situs Liyangan di pusat informasi yang disediakan. Informasi ini meliputi sejarah, arkeologi, dan segala hal yang relevan dengan situs ini, membantu pengunjung memahami lebih dalam tentang kekayaan budaya yang ada.
• Toilet: Toilet tersedia di beberapa titik di kawasan situs untuk memenuhi kebutuhan pengunjung selama berkunjung. Ketersediaan fasilitas ini penting untuk kenyamanan pengunjung dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
• Area Parkir: Area parkir disediakan di luar kawasan situs untuk kendaraan pribadi pengunjung. Fasilitas ini memudahkan pengunjung yang datang dengan kendaraan sendiri untuk parkir dengan aman dan nyaman selama berkunjung.
• Warung Makan: Terdapat warung makan di luar kawasan situs yang menyediakan berbagai hidangan dan minuman untuk pengunjung. Fasilitas ini memungkinkan pengunjung untuk membeli makanan dan minuman untuk mengisi energi selama berkunjung atau untuk bersantai setelah menjelajahi situs.
Dengan adanya fasilitas-fasilitas ini, Situs Liyangan tidak hanya menyajikan pengalaman berwisata yang kaya akan sejarah dan budaya, tetapi juga memperhatikan kenyamanan dan kebutuhan praktis pengunjung.
Situs Liyangan merupakan salah satu situs arkeologi terpenting di Indonesia. Situs ini memberikan informasi yang berharga tentang kehidupan masyarakat Mataram Kuno, seperti sistem sosial, ekonomi, dan budaya. Situs Liyangan juga merupakan bukti kejayaan Kerajaan Mataram Kuno sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.
Situs ini dibuka untuk umum sebagai tempat wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat berbagai macam peninggalan sejarah Mataram Kuno dan belajar tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. Dengan menggunakan paket wisata Temanggung yang ditawarkan oleh berbagai agen perjalanan wisata, anda bisa mengunjungi Situs Liyangan ini tanpa repot.
TEMANGGUNG – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek RI), berencana akan menjadikan Situs Liyangan sebagai bagian dari Cagar Budaya Nasional. Keberadaan situs peninggalan era Mataram Kuno Liyangan, di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung itu, dianggap paling lengkap, baik dari segi peninggalan arkeologi, maupun dari sisi peradabannya.
Hal tersebut disampaikan arkeolog senior Kemendikbudristek RI Junus Satrio Atmodjo, yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, saat mengunjungi Liyangan, Selasa (1/8/2023). Ia dan timnya mendapatkan tugas khusus dari Kementerian untuk mempersiapkan Situs Liyangan naik level nasional.
Menurut Junus, situs peninggalan kerajaan Mataram Kuno itu memiliki nilai penting, dan dari kompleks tersebut ada informasi yang sangat berharga. Yang dimaksud berharganya, bukan dari apa yang dilihat sekarang, di mana ada peninggalan teras batu, sisa candi, tapi ada peradaban di baliknya.
“Mengapa daerah ini dipilih menjadi daerah suci, daerah keagamaan, sampai akhirnya orang di abad 8-9 Masehi membangun kompleks ini. Tentunya mereka punya alasan kuat, dikaitkan sistem kepercayaan yang waktu itu sedang berlangsung, terutama agama Hindu yang sifatnya adalah pemujaan Dewa Syiwa,” bebernya.
Ditambahkan, bukti adanya pemujaan Dewa Syiwa, dengan ditemukannya lingga dan yoni, kemudian adanya Arca Nandi. Selain itu, kemajuan peradaban di Liyangan juga bisa dilihat dengan ditemukannya keramik dari Cina era Dinasti Tang sekitar abad 8-9 Masehi, serta penemuan pecahan kaca yang kemungkinan berasal dari Timur Tengah (Persia dan Arab).
“Dibalik itu semua, kita menggambarkan peradaban orang Jawa, yang selalu digambarkan dengan Borobudur, Prambanan, itu di daerah dataran rendah yang kaya dengan padi, daerah subur, orangnya banyak bisa bikin bangunan besar. Nah, kok di sini (Liyangan) kita temukan juga sisa-sisa dari bangunan besar dari satu kompleks besar. Artinya, dulu penduduknya banyak, dan dari temuan-temuan sejauh ini ada hubungan kuat dengan Cina, Timur Tengah,” jelasnya.
Junus menuturkan, pihaknya memunyai bukti keterkaitan itu, yakni dengan ditemukannya kapal dari Arab yang tenggelam di perairan Belitung Barat. Diketahui, kapal itu membawa barang-barang dagangan dari Cina dan barang-barang lokal (nusantara). Dari data kemudian digabungkan mulai dari tenggelamnya kapal dengan barang-barang yang sama di Borobudur dan Prambanan pada masa itu.
Hal tersebut, ungkapnya, membuktikan saat itu sudah ada hubungan penduduk di daerah pegunungan, dengan dunia maritim luar, sehingga sangat menarik bagi kajian arkeologi dan sejarah. Tak kalah menarik, juga bagaimana peran para pendeta mengawal pertumbuhan agama Hindu-Buddha dari sisi keagamaan, bahkan menjadi pertanyaan, apakah mereka orang India atau orang Jawa yang telah memeluk agama Hindu-Buddha.
Dari sisi arkeologi, terang Junus, jika melihat struktur kompleks ini punden berundak sebetulnya, beda konsepnya dengan Borobudur dan Prambanan, di mana ada bangunan tinggi besar dikelilingi pagar-pagar berbentuk persegi. Sementara, di tempat itu undak-undakan, sebenarnya konsep prasejarah yang dipertahankan.
“Dan kita bisa lihat sisanya tidak ada candi besar, candinya kecil-kecil, arca seperti di Prambanan juga tidak ada. Di sini yang lebih utama pemujaan pada nenek moyang, ini hipotesis saya, itu sebabnya peletakan di daerah pegunungan (punden berundak) karena puncak gunung dianggap sebagai tempat tinggal nenek moyang dan ketemu juga dari sisi mitologi Hindu-Buddha, puncak gunung itu kerajaan Dewa Indra penguasa gunung dan surga. Dibayangkan surganya ada di sana,” jelasnya.
Saat ini, pihaknya sedang melakukan pengukuran wilayah arkeologi, dengan pengumpulan data, pemotretan menggunakan drone, lapisan geologi paling bawah, dicek batas dari daerah yang akan diusulkan sebagai cagar budaya nasional. Selanjutnya, akan dipilah mana yang akan dikonservasi, termasuk sebaran, hingga memproteksi batas-batasnya, seperti sungai, batas jalan dan lain sebagainya.
Adapun untuk luas lahan nantinya, terang Junus, bisa berubah tergantung penemuan hal penting, data baru, dan yang lebih penting, saat ini memproteksi agar Temanggung memiliki sebuah kekayaan yang secara nasional diakui dan dikelola bersama.
“Tugas saya mengawal ini, mengumpulkan materi untuk sidang. Kita ingin membangkitkan kesadaran pentingnya situs ini, kembalinya pada Temanggung, kita bantu bersama-sama. Bahan kita kumpulkan untuk dikaji Tim Cagar Budaya Nasional,” pungkasnya.
putri febria arbiyanti:wowwww kerennnn
ReplyDeleteASIKKKKK
ReplyDeleteseMakin menyAlaaaa
ReplyDeleteso good
ReplyDeletejamett
ReplyDeleteanjirrr
ReplyDelete