Niko adi winata (AREMA )

                                                               AREMA

THIS IS OUR HISTORY

Arema  adalah sebuah klub sepak bola profesional Indonesia yang berbasis di Malang, Jawa Timur. Klub ini didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987, dan memiliki julukan "Singo Edan," yang mencerminkan semangat dan keberanian mereka di lapangan. Warna khas Arema FC adalah biru, yang sering terlihat di seragam tim dan atribut pendukungnya.
Arema FC memiliki basis pendukung yang besar dan fanatik yang dikenal dengan nama "Aremania." Mereka dikenal karena dukungan penuh semangat mereka terhadap klub, baik di stadion maupun melalui berbagai kegiatan komunitas.
Klub ini bermain di Liga 1 Indonesia, kasta tertinggi sepak bola Indonesia, dan memiliki sejarah prestasi yang cukup baik, termasuk memenangkan beberapa trofi nasional. Arema FC juga sering dianggap sebagai salah satu klub dengan tradisi kuat dalam sepak bola Indonesia.





rah Arema dimulai pa di Malang, Jawa Timur, lahir dari semangat Arek-arek Malang untuk memiliki klub sepak bola profesional setelah sebelumnya lebih banyak mendukung Persema; diprakarsai oleh Acub Zaenal dan Dirk Sutrisno, namanya diambil dari julukan "Arek Malang" (pemuda Malang) dan terinspirasi dari tokoh legendaris Kebo Arema dari Kerajaan Singasari, dengan logo singa karena bulan Agustus identik zodiak Leo. Arema berkembang pesat, meraih juara Galatama 1992, mengalami beberapa kali perubahan nama (PS Arema Bentoel, Arema Indonesia, Arema Cronus) menjadi Arema FC, dan memiliki basis pendukung fanatik bernama Aremania. 

Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema Malang masih menjadi magnet bagi arek-arek Malang. Stadion Gajayana sebagai home base klub pemerintah itu selalu dipenuhi penonton. Sementara, nama Arema waktu itu masih berupa sebuah “utopia”.

Lantas, datanglah Acub Zainal, mantan Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) ke-3 dan mantan pengurus PSSI periode 80-an yang kali pertama punya gagasan melahirkan pemikiran membentuk klub Galatama di kota Malang. Saat itu, Galatama menjadi kompetisi semi profesional yang diikuti klub-klub swasta yang tak dibiayai APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).


Lahirnya Arema juga tak lepas dari peran Ovan Tobing, Humas Persema saat itu. Pria yang kini menjadi MC pertandingan kandang Arema itu mengundang Acub Zainal ke Stadion Gajayana ketika Persema bertanding melawan Perseden Denpasar. Kala itu, Acub posisinya sebagai Administratur Galatama.

Beberapa hari setelah itu, Ir. Lucky Acub Zainal, putra Acub Zaenal mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada No. 15 Kota Malang dengan diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. Dari pembicaraan malam itu, Ovan menyatakan tak punya dana besar untuk membentuk klub Galatama, modalnya hanya pemain.

Seiring berjalannya waktu Arema Indonesia semakin menampakkan perubahan yang besar. Tepat saat mengikuti Liga Indonesia tahun 1996-1997, sempat masuk tujuh kali putaran kedua sampai ke 12 besar. Dan berhasil enam kali masuk 8 besar di tahun 1999-2000, 2001, 2002, 2005, 2006 dan 2007.

Tepat di tahun 2012, secara hukum pemilik Arema adalah Yayasan Arema. Dan sejak 2015 Arema FC sudah resmi di daftarkan berbadan hukum baru yaitu PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI).


Solo - Klub Arema FC di ambang pembubaran akibat ditolak di mana-mana dan demonstrasi Aremania. Klub ini lahir dari dualisme kompetisi ISL dan LPI.
Dilansir detikSepakbola, Senin (30/1/2023), dualisme kompetisi terjadi pada 2011 saat pengusaha Arifin Panigoro mendirikan Liga Primer Indonesia (LPI). Beberapa klub memilih bergabung ke LPI, sebagian lainnya tetap bermain di Indonesia Super League (ISL).

Klub yang terkendala masalah dualisme yaitu Arema FC dan Arema Indonesia yang dulunya bernama Arema Malang. Arema Indonesia memutuskan untuk ikut LPI sesuai keinginan petinggi Yayasan Arema Indonesia yakni Lucky Ayub Zaenal

Baca artikel detikjateng, "Kilas Balik Arema FC, Berawal dari Dualisme Kini Terancam Bubar" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/sepakbola/d-6542633/kilas-balik-arema-fc-berawal-dari-dualisme-kini-terancam-bubar.

Namun, ada kubu dari Arema Indonesia yang tak setuju dengan keputusan Ketua Yayasan Arema kala itu. Mantan Sekretaris Yayasan Arema yaitu Rendra Kresna lalu membentuk klub yang bermain di ISL dengan memakai nama Arema Cronus.



Namun, ada kubu dari Arema Indonesia yang tak setuju dengan keputusan Ketua Yayasan Arema kala itu. Mantan Sekretaris Yayasan Arema yaitu Rendra Kresna lalu membentuk klub yang bermain di ISL dengan memakai nama Arema Cronus.


Namun, ada kubu dari Arema Indonesia yang tak setuju dengan keputusan Ketua Yayasan Arema kala itu. Mantan Sekretaris Yayasan Arema yaitu Rendra Kresna lalu membentuk klub yang bermain di ISL dengan memakai nama Arema Cronus.

Baca artikel detikjateng, "Kilas Balik Arema FC, Berawal dari Dualisme Kini Terancam Bubar" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/sepakbola/d-6542633/kilas-balik-arema-fc-berawal-dari-dualisme-kini-terancam-bubar.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Hal itu membuat dua Arema yang sama-sama berada di bawah naungan PSSI. Arema Cronus itu kini menjadi Arema FC yang eksis bermain di kompetisi level atas, mulai dari ISL, Indonesia Soccer Championshio (ISC) A 2016, hingga kini di era Liga 1.

Sementara itu, Arema Indonesia terus tertahan di kompetisi level bawah (amatir). Kehadiran dua Arema ini membuat Aremania dilanda masalah dilematis soal klub yang harus didukung.

Jauh sebelumnya mereka juga harus memilih Arema mana yang mereka dukung saat dualisme kompetisi LPI dan ISL. Awalnya mereka mendukung Arema Indonesia yang bermain di LPI.

Aremania kemudian beralih mendukung Arema Cronus yang saat itu mendatangkan pemain-pemain bintang dari Arema Indonesia seperti Kurnia Meiga, Ahmad Alfarizi, Dendi Santoso, hingga M Ridhuan

Baca artikel detikjateng, "Kilas Balik Arema FC, Berawal dari Dualisme Kini Terancam Bubar" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/sepakbola/d-6542633/kilas-balik-arema-fc-berawal-dari-dualisme-kini-terancam-bubar.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Arema Cronus makin didatangi banyak bintang setelah melebur dengan Pelita Jaya pada Oktober 2012. Saat itu, pemilik Pelita Jaya yakni Grup Bakrie membeli Arema FC sehingga mereka berlimpah pemain bintang Pelita Jaya seperti Greg Nwokolo hingga Joko Sasongko.

Pelita Jaya yang kemudian menjadi Persipasi Bandung Raya usai dibeli Achsanul Qosasi lalu menjadi Madura United pada 2016. Bisa dibilang, Pelita Jaya ini menjadi dua klub yaitu Arema FC dan Madura United.

Selanjutnya di halaman berikut.


Di sisi lain, Aremania pun mendukung Arema FC yang bertabur bintang. Sementara itu, Arema Indonesia yang berjuang di kompetisi level bawah semakin ditinggal.

Di media sosial, Arema kerap mendapat cibiran ketika topik Arema sedang dibahas. 'Arema yang mana?' begitu salah satu kalimat yang sering dilontarkan akun-akun media sosial, untuk menyindir Aremania yang dianggap lebih memilih Arema FC ketimbang Arema Indonesia yang dianggap sebagai 'Arema asli'.

Persoalan dualisme Arema ini pun diprediksi berakhir. Arema FC dikabarkan akan membubarkan diri setelah dilanda berbagai masalah seusai Tragedi Kanjuruhan.

Buntut Tragedi Kanjuruhan, Arema FC dihukum tak boleh bermain di Malang dengan ketentuan hanya bisa bermain laga kandang dengan jarak 250 kilometer dari Malang. Mereka pun ditolak komunitas-komunitas lokal saat memilih beberapa venue untuk menjadi laga kandang.

Baca juga:
Arema FC: Dulu Lahir dari Dualisme, Kini Terancam Bubar
Tak hanya masalah eksternal, Arema FC juga dilanda masalah internal. Mereka dianggap pasif dalam pengusutan Tragedi Kanjuruhan sehingga memantik demonstrasi Aremania yang berunjuk rasa di kantor Arema, Minggu (29/1), yang berujung ricuh.

Terkait tekanan itu, Arema FC kini mempertimbangkan bubar. Belum diketahui apakah Arema FC akan bubar secara entitas, atau hanya istirahat sejenak.

Tapi apa pun itu, sanksi berat sudah menanti Arema FC andai mundur dari Liga 1 2022 saat kompetisi sudah berjalan. Merujuk regulasi PSSI, mereka terancam denda besar dan hukuman turun ke kompetisi level bawah.

Baca artikel detikjateng, "Kilas Balik Arema FC, Berawal dari Dualisme Kini Terancam Bubar" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/sepakbola/d-6542633/kilas-balik-arema-fc-berawal-dari-dualisme-kini-terancam-bubar.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/




Pada mulanya, Arema dikenal sebagai PS Arema Malang pada 1987-1995. Kemudian beberapa kali mengubah namanya menjadi PS Arema Bentoel (1995-2009), Arema Indonesia FC (2009-2013), Arema Cronus (2013-2017), dan terakhir Arema FC (2017- sekarang).

Mengutip dari p2k.unkris.ac.id, pendirian klub Kota Apel ini tak lepas dari peran Dirk ‘Derek’ Sutrisno dengan Armada 86-nya, yang kemudian mencetuskan nama Armada Arema atau Aremada 86. Namun lantaran terhimpit dana, Acub Zaenal lantas mengambil alih untuk menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Sekali lagi, nama arema berubah menjadi Arema Galatama. Nama Arema sendiri diambil dari legenda Malang, yaitu kisah Patih Kebo Arema ketika Singosari diperintah Raja Kertanegara.

Tak hanya itu, Lanud Bandar Udara Abdul Rachman Saleh turut andil atas berdirinya Arema. Saat itu, Lanud Abdul Rachman Saleh membantu dan menyediakan barak prajurit Paskhas TNI AU untuk dijadikan mess pemain. Termasuk lapangan Pagas Abdul Saleh dibuat sebagai tempat belajar.

Merangkum dari eprints.umm.ac.id, sejak pertama dibentuk Arema merupakan klub swasta yang mengandalkan dana dari sponsor. Hal ini sangat berbeda Persema Malang yang sudah ada sejak 1953 dan bergantung pada anggaran pemerintah.

Sepanjang berdirinya, Arema sempat terpecah menjadi 2 kubu dikarenakan mengikuti 2 kompetisi yang berbeda, yakni Arema IPL dan Arema ISL. Masa itu, Arema ISL bermerger dengan Pelita Jaya Cronus sehingga merubah namanya menjadi Arema Cronus.

Tak lama setelah itu, Arema membuat sebuah gebrakan besar untuk menyambut kompetisi pada 2017. Dimana yang semula Arema Cronus berubah nama dan logo menjadi Arema FC.

Selain merubah nama, Arema FC kerap menukar logonya berdasarkan kompetisinya. Seperti logo pertamanya, Arema Indonesia yang digunakan dari 1987 hingga 1994 saat berkompetisi di era galatama. Kemudian merubahnya pada era 1994, dimana saat itu berkompetisi di liga Dunhill dan Indonesian Super League (ISL) 2010/2011.

Pada 2012 dalam rangka memperingati ulang tahunnya, Arema kembali merubah logonya dengan menambahkan tameng. Sekaligus menggunakan slogan “RISE TO FIGHT” menjelang berlaga di Indonesian Super League.

Klub yang bermarkas di Stadion Kanjuiruhan dan identik dengan jersey warna biru ini juga menukar logonya saat menyandang nama Cronus. Dimana Arema berganti logo dengan menambahkan tameng berwarna biru dan disampingnya ada garis berwarna merah. Lalu menambahkan 2 bintang diatas logonya dan merubah tulisan 11 Agustus 1987 menjadi salam satu jiwa.

Prestasi Arema FC



Selain memiliki suporter terbesar di Indonesia, Arema juga punya sederet prestasi. Berikut trofi yang pernah diraih Singo Edan.

1. Juara Piala HUT Arema ke-5 tahun 1992.

2. Juara Galatama tahun 1992-1993.

3. Juara Copa Indonesia tahun 2005.

4. Juara Copa Indonesia tahun 2006.

5. Juara ISL tahun 2009-2010

6. Runner-up ISL tahun 2010-2011.

7. Runner-up ISL tahun 2012-2013.

8. Juara Menpora Cup tahun 2013.

9. Juara Piala Gubernur Jawa Timur tahun 2013.

10. Juara Trofeo Persija Cup tahun 2013.

11. Juara Trofeo Persija Cup tahun 2015.

12. Juara SCM Cup tahun 2015.

13. Juara Inter Island Cup tahun 2014.

14. Juara Bali Island Cup tahun 2015.

15. Juara Sunrise of Java Cup tahun 2015.

16. Juara Piala Bhayangkara tahun 2016.

17. Juara Bali Island Cup tahun 2016.

18. Juara Trofeo Bhayangkara Cup tahun 2017.

19. Juara Piala Presiden tahun 2017.

20. Juara Piala Presiden tahun 2019





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bimantoro Ari Darmawaan (cara membuat layangan)

ANGGREANI ASTUTI (BENTENG PENDEM KEBUMEN)

aninda putri listiyani (kesenian di temanggung)